Sony Ramba, Surabaya

http://brainspine.co/story/sonyramba/images/sonyramba.jpg

” Menderita Lumpuh

Malah Didiagnosa Asam Urat “

 

Membaca judul di atas kita mungkin berpikir, “Ah dokternya ngawur”. Tetapi peristiwa ini sungguh-sungguh terjadi. “Bahkan dokter yang mendiagnosa itu dokter luar negeri,” kata Sony Ramba. Menurutnya ini peristiwa yang aneh, mungkin menggelikan juga baginya. Sony mendapatkan diagnosa aneh ini dalam rangka mencari informasi mengenai sakit yang ia derita.
“Mula-mula saya sehat-sehat saja,” cerita Sony. Tetapi pada suatu saat ia merasa kaki kiri sebelah bawah merasa seperti diikat. “Seperti pakai kaus kaki,” katanya mengenang awal sakit sekitar tiga tahun lalu. Lama-kelamaan rasa itu menjalar ke atas. Akibatnya, lama kelamaan ia tidak dapat berdiri dalam waktu yang lama. “Akibatnya saya sering duduk.” Keseringan duduk ini juga menimbulkan masalah sosial. “Saya sering merasa tidak enak kalau ada undangan standing party, lha masih muda kok menyendiri cari tempat duduk menyepi.”
Mengetahui hal itu ia tidak tinggal diam maka ia pergi berobat ke beberapa dokter. Di negeri singa, ia mendapat penjelasan bahwa ia menderita sakit lumbal L4-5, dan karena itu ia harus menjalani operasi.
Risikonya? Dokter itu mengatakan bahwa sangat berat risikonya yaitu bisa saja kalau operasi tidak berhasil ia dapat menderita kelumpuhan, bahkan malah bisa fatal dan meninggal.
Mendapat penjelasan itu ia tentu tidak berani melanjutkan terapinya ke meja operasi. “Lha penjelasan itu membuat saya takut.” Lalu suatu saat ia pergi ke negeri kangguru. Di tempat inilah ia mendapatkan diagnosa yang aneh, ya saya didiagnosa menderita asam urat.
Bertambah parah sakitnya, ia akhirnya bertemu seorang teman yang mengajaknya bertemu dokter Sofyanto. “Saya mendapat diagnosa yang sama dengan dokter di kota singa, tetapi mendapat penjelasan yang berbeda, tidak ada penjelasan yang membuat takut, malah ia optimistis bahwa deritanya bisa disembuhkan.
Apalagi waktu itu ia bertemu pasien tumor otak, yang membuatnya yakin bahwa menjalani operasi merupakan jalan yang aman. “Setelah keluar dari rumah sakit, saya langsung minta nyetir mobil sendiri, karena saya yakin bahwa saya sudah sembuh,” katanya. Rasa nyaman dan sembuh itu bahkan ia peroleh sesaat sesudah operasi. “Saya kini dapat beraktivitas normal lagi.”