Lies Dwi Imang, ALOR NTT

Lies Dwi ImangPenggemar tenis lapangan ini pulang pergi Surabaya Alor seperti naik angkot saja. Pada Februari 2011 ia mendadak merasa nyeri pada punggung yang menjalar ke tangan. “Sangat nyeri dan saya tak tahan lagi, sehingga saya minum neuralgin tiap jam,” urai guru  di SMPN I Alor, NTT ini.

Selama itu ia tidak mengerti menderita sakit apa. “Semula saya diduga punya kolesterol tinggi, namun setelah diterapi dan kolesterolnya turun tidak sembuh juga, sakit dan yerinya bertambah”. Uniknya, selama sakit lima bulan itu dan bolak-balik Alor-Surabaya, ia sekalipun tidak pernah cerita pada suami. “Saya takut dilarang main tenis. Demikian juga saat operasi ia tidak bercerita panjang lebar pada suami.”

“Setelah operasi semua penderitaan hilang, dokter berpesan boleh main tenis tiga bulan setelah operasi, asal jangan memukul backhand, tapi sekali-kali saya curi juga, dan untungnya saya tidak apa-apa.” ujarnya sambil tertawa.

Ia mengaku kini ia telah pulih dan mampu bermain tenis seperti sedia kala.