Muhsin Hamzah, Palembang

” ALHAMDULILLAH DI SURABAYA SAYA DAN ISTRI MENEMUKAN KESEMBUHAN “

muhsinhamzah-2

Sejak lulus Akademi Perawat tahun 1973 di Palembang, saya dan isteri bekerja di Puskesmas di wilayah Sumatera Selatan. Hampir 12 tahun lamanya kami bertugas dengan sarana yang minim dan kondisi alam yang kurang mendukung. Setelah cukup lama berpindah dari satu Puskesmas ke Puskesmas yang lain akhirnya kami ditugaskan ke BKKBN membantu di seksi
pelayanan kontrasepsi.
Ketika masih aktif berdinas tepatnya di tahun 1999 saya menderia gangguan kesehatan yakni spondylosis lumbal (kecetit pinggang). Saya merasakan sakit di bagian pinggang bagian bawah kemudian menjalar ke dua tungkai kaki.
Dulu dokter sempat memvonis saya menderita arteriosklerosis atau pembuluh darah mengalami kekakuan sehingga harus menjalani fisiotheraphy. Kendati sudah saya lakukan fisiotherapi beberapa kali di berbagai tempat tapi hilangnya rasa sakit hanya bertahan dua minggu setelah itu kambuh lagi. Puncak penderitaan terjadi tahun 2012. Meski dokter memberi berbagai obat namun sama sekali tidak berpengaruh. Nyeri di pinggang itu membuat saya benar­benar tidak tahan. Tak berhasil kedokter kemudian mencoba ke akupuntur. Tapi lagi­lagi hanya hanya bertahan 3 bulan, selebihnya kambuh lagi.
Belum berhasil di tanah air, kemudian pada April dan Juli 2013 saya mencoba berobat ke Kuala Lumpur. Di rumah sakit negeri jiran itu saya dilakukan therapy epidural injection, yaitu suntikan
untuk meredam rasa sakit. Tapi lagi­lagi hanya 3 bulan, setelah itu nyeri kembali datang.
Mungkin Allah tengah memberi cobaan pada kami. Dalam waktu bersamaan istri saya Chairuna (61) juga menderita gangguan kesehatan pula. Meski tidak separah yang saya alami namun sakit yang diderita sejak lima tahun lalu itu juga cukup menyiksa. Isteri saya oleh dokter divonis menderita carpal tunnel syndrome (CTS). Dampak dari sakit ini adalah sering kesemutan, lemah tangan, biasannya kalau memegang gelas saja sering terlepas sendiri. Bahkan untuk memotong kuku dan memasang kancing baju harus minta bantuan orang lain karena tidak bisa melakukan sendiri.

INFORMASI DARI TEMAN
Saya bersyukur di tengah kesulitan itu saya mendapat informasi dari teman­teman sesama alumni akademi keperawatan baik yang ada di Palembang, Surabaya maupun Jakarta, bahwa di Surabaya ada dokter ahli bedah saraf yang ahli menangani penyakit saya ini.
Sepenggal informasi dari kawan­kawan itu membangkitkan harapan sembuh yang sempat pudar. Seketika itu saya menghubungi komunitas spondylosis lumbal yang selama ini menjadi wadah pasien dr. Sofyan. Dari komunitas itu pula saya dikirimi bulletin. Dari bulletin
yang saya dapat, saya semakin yakin jika dr. Sofyan bisa membantu menyembuhkan mengingat sudah banyak pasien yang mengidap sakit sejenis dengan saya berhasil disembuhkan.
Setelah minta pertimbangan keluarga saya sama istri membulatkan tekad berangkat ke Surabaya. Setelah diketahui pasti lumbal nomor empat dan lima mengalami masalah kemudian pada 17 Maret 2014 saya menjalani operasi. Saya tak henti mengucap syukur pada Allah, tiga hari setelah operasi saya sudah bugar bahkan berjalan sendiri. Tidak perlu berhenti dan tertatih tatih sebelumnya.
Sedangkan istri saya, dilakukan operasi CTS lima hari sebelum saya dioperasi. Tidak seperti operasi pada umumnya, yang memerlukan waktu lama. Operasi CTS ini cukup dilakukan dengan bius lokal dan dilakukan sayatan kecil bagian saraf di tangan yang bermasalah. Yang membuat takjub tindakan medis itu sendiri hanya berlangsung lima menit. Dan Alhamdulillah, setelah itu gangguan kesehatan istri saya itu hilang seketika. Padahal, yang pernah saya dengar di beberapa rumah sakit, usai operasi CTS ini pasien harus dirawat sampai dua hari lamanya.
Kini, setelah 2 bulan usai operasi kami bisa hidup normal seperti sediakala. Kalau semula saya hanya bisa sholat sambil duduk karena kalau berdiri tak kuat menahan sakit kini saya sudah kembali menjalankan ibadah dengan normal. Saya benar­benar bahagia, karena bisa memasuki masa pensiun dengan sehat tanpa gangguan kesehatan.