Woen Way Kok, Sumedang

“DULU LUMPUH SEKARANG SANGGUP JALAN KILOAN METER”

woen2Kendati usianya sudah memasuki kepala enam, tetapi semangat maupun fisik bapak enam orang anak tersebut terlihat sangat prima. Nada suaranya terdengar lantang, ketika bercerita roman mukanya terlihat penuh semangat. “Saya bersyukur kepada Tuhan, sekarang fisik saya kembali bugar,” kata Woen Way Kok (64), dengan senyum mengembang ketika ditemui Brain Spine Community (BSC) di rumahnya di Sumedang (Jabar).

Padahal dulu mental Woen sempat drop setelah mengalami kelumpuhan dan harus duduk di atas kursi roda. “Rasanya hidup ini seperti tak berarti lagi. Saya yang terbiasa cekatan dan penuh aktifitas, tiba-tiba harus duduk di kursi roda. Rasanya sebuah penderitaan yang tak terkirakan,” katanya mengenang kejadian beberapa tahun silam.

Woen yang menjabat sebagai vice president Lion Club Sumedang Host menceritakan bahwa gejala sakit itu sebenarnya sudah dia rasakan sejak tahun 1997. Awalnya kedua tangannya mengalami kesemutan dan pundaknya pegal-pegal. Semula ia mengira gangguan itu akibat beratnya pekerjaan mengelola perusahaan pabrik tapioka di Bandung. “Jadi saya cuekin saja, saya pikir nanti akan sembuh sendiri.”

Tetapi lama kelamaan penderitaan yang dirasakan semakin parah. Yang semula hanya kesemutan, kemudian menjalar ke bagian tubuh lain, bahkan kaki sudah berat untuk dipakai berjalan. Ia sempat beberapa kali ke dokter tetapi tidak membuahkan hasil. Baru pada tahun 2005, dari hasil MRI terungkap bahwa sakit tersebut akibat saraf yang berada di leher terjepit. Menurut dokter, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali operasi. “Sebenarnya bisa saja saya melakukan operasi, tetapi saya belum yakin mengingat operasi dilakukan di bagian tubuh yang sangat berbahaya.”

Tak puas dengan pemeriksaan dokter di Bandung, ia kemudian melakukan second opinion dengan melakukan pemeriksaan di Singapura dan Malaysia. “Menurut dokter di Singapura dan Malaysia juga sama, satu-satunya bisa sembuh harus dengan cara operasi,” papar Woen, yang salah seorang anaknya juga seorang dokter tersebut.

Puncak penderitaan itu terjadi pada tahun 2012, ketika keluar dari kamar mandi ia tak kuat menahan beban tubuh kemudian terjatuh. Sejak itu ia mengalami kelumpuhan total sehingga kemana-mana harus menggunakan kursi roda. “Batin saya benar-benar terguncang. Saya tak pernah membayangkan akan mengalami kelumpuhan,” kata Woen dengan mata menerawang.

Di tengah rasa frutasi, ia membaca buletin Brain Spine yang menulis bahwa di Surabaya ada seorang dokter ahli dalam menangani sakit yang ia derita. Tanpa pikir panjang, ia kemudian menuju Surabaya untuk bertemu dengan dr. Sofyanto, SpBS. Dari hasil pemeriksan, ternyata bukan hanya kecetit leher saja, tetapi saraf di pinggang saya juga mengalami hal yang sama. “Namun dari hasil penjelasan dokter Sofyan, saya mantap menerima saran untuk dilakukan operasi,” papar Woen.

Dan pilihannya tersebut tidak salah, setelah usai dilakukan operasi batang leher, ia merasakan badannya, terutama bagian atas, mengalami peningkatan. Sehari setelah operasi, dia sudah bisa mulai menggerakan tubuh bagian atas.

Usai operasi batang leher, dua minggu kemudian disusul operasi kecetit bagian pinggang. Dan hasilnya luar biasa, dua hari setelah operasi dia sudah bisa berjalan. “Begitu saya bisa menggerakkan kaki, semangat hidup saya kembali pulih,” cerita Woen dengan wajah berbinar.

Bahkan saking gembiranya, sebelum kembali ke Sumedang ia menyempatkan jalan-jalan di mall di Surabaya sekaligus wisata kuliner. “Benar-benar saya tak menduga kalau kondisi fisik saya secepat itu akan membaik,”

Setelah dilakukan terapi beberapa bulan, dirinya sudah kembali bugar seperti sediakala. “Kalau sekarang jangankan cuma jalan ratusan meter, empat kilo pun oke-oke saja,” ujarnya mantap.