Category Archives: Story of Life

Herman, Manado

Bolak-balik Singapura-Malaysia, Sembuhnya Justru di Surabaya

Menjalani Operasi Tulang Belakang di Usia 77 Tahun

Hidup sangat berharga untuk diserahkan begitu saja pada penyakit. Semangat itulah yang dipegang Herman Soesanto, seorang pengusaha asal Surabaya. Pada usia yang telah lewat kepala tujuh (tapatnya 77 tahun), dia nekat menjalani operasi tulang belakang karena tak tahan lagi mengalami “nyeri kecetit”. Jika melihat kondisinya sekarang, orang tidak akan menyangka bahwa lima tahun lalu Herman nyaris tidak bisa berjalan. Bahkan, untuk sekadar duduk, dia harus dibantu keluarganya.

Rasa sakit itu datang tiba-tiba saat sedang beraktivitas di area peternakannya. Dia merasakan nyeri di sekitar punggung. Tak lama kemudian rasa sakit menjalar ke bawah hingga di bagian kaki kanan. Saat itu Herman tak begitu memikirkannya. Dia juga merasa tidak terganggu karena rasa sakit tersebut sesekali menghilang dengan sendirinya. Kondisi kesehatan Herman itu akhirnya diketahui putrinya, Meydi, 43. Sang anak langsung mencari pengobatan terbaik untuk kesembuhan orangtuanya.

Herman yang waktu itu tinggal di Manado telah beberapa kali memeriksakan diri ke rumah sakit setempat. Semula dia mengira itu penyakit lanjut usia biasa. Dokter pun sebatas melakukan fisioterapi dan memberikan obat. Namun, semakin lama kondisi Herman semakin menurun. Dia malah tidak bisa berjalan. Tangannya juga tidak bisa digerakkan. Meydi kemudian membawanya ke Singapura dan Malaysia. Di kedua negara tersebut Herman hanya diperiksa dan diberi obat-obatan biasa. Namun Herman tetap saja tidak bisa berjalan. Setelah mendapat informasi dari rekannya bahwa ada yang berhasil berjalan setelah menjalani operasi.

Setiba di rumah sakit, Herman langsung ditangani tim dokter yang dipimpin dr. M Sofyanto, Sp.BS. Menurut beliau, Herman datang dengan kondisi tidak bisa berjalan. Bahkan, dia mengaku sekujur tubuhnya terasa nyeri. Setelah dilakukan cek MRI (magnetic resonance imaging), dr. Sofyanto mengatakan, ada kelainan pada sumsum tulang belakang pasien, tepatnya di lumbal atau ruas 4 dan 5.

dr. Sofyanto menjelaskan, itu sebenarnya lazim dialami orang yang sudah lanjut usia. Jenis penyakitnya dinamakan spondylosis lumbalis atau nyeri kecetit. Penyakit tersebut merupakan proses degenerasi pada tulang belakang yang diikuti gangguan stabilitas di daerah tulang pinggang, ligamen, dan sendi facet. Gangguan itulah yang mengakibatkan penyempitan rongga sumsum saraf. Akibatnya, timbul gejala nyeri yang sangat mengganggu sampai kaki. ”Yang bikin si pasien nggak bisa jalan, ya, karena ini. Rongga sumsum sarafnya menyempit,” jelasnya. Pada beberapa kasus, penanganan penyakit itu bermacam-macam, ada yang hanya dianjurkan menjalani fisioterapi, pemberian obat antiinflamasi, hingga cukup dengan latihan saja.

dr. Sofyanto menjelaskan, operasi biasanya lazim dijalani orang di bawah usia 70 tahun. Namun, kali ini Sofyanto mengoperasi pasien berusia 77 tahun. Setelah dr. Sofyanto mendapat persetujuan pihak keluarga dan pasien, akhirnya dilakukanlah operasi. Herman masuk rumah sakit pada 16 Oktober dan pada 17 Oktober dilakukan operasi. ”Tanggal 19 bisa duduk-duduk dan tanggal 20-nya pasien kami perbolehkan pulang,” tandas dr. Sofyanto.

Dalam melakukan operasi, dr. Sofyanto tidak sendirian. Dia dibantu rekannya sesama spesialis, yakni dr. Agus Chairul Anab SpBS, beliayuiau mengatakan, operasi itu sebenarnya agak rumit dan usia pasien juga sudah cukup tua. Ruas tulang akhirnya dipasang PLIF (posterior lumbar interbody fusion) atau sejenis titanium. Alat itu digunakan untuk menyangga susunan tulang di ruas 4 dan 5 dan dipasang di tubuh pasien seumur hidup.

Setelah pemasangan alat tersebut dan operasi dinyatakan berhasil, kondisi Herman pun mulai pulih. Bahkan, setelah operasi, keesokan harinya Herman langsung bisa duduk dan berjalan tanpa merasakan nyeri.

Terkait dengan cepatnya proses operasi, dr. Agus menyatakan bahwa pasien turut berperan dalam keberhasilan operasi itu. Menurut beliau, semangat Herman untuk sembuh cukup tinggi, bahkan dia tidak takut dioperasi meskipun usianya sudah cukup senja. Dr. Agus  mengatakan, biasanya orang seusia Herman takut jika dioperasi. Hal tersebut bisa dimaklumi karena banyak anggapan bahwa operasi berpotensi mengakibatkan kelumpuhan.

Herman pun mengakui sempat merasa rasa takut operasi yang dijalani gagal dan dirinya akan lumpuh. Kini, setelah sembuh, dia pun berujar ternyata tenaga medis di Indonesia tidak kalah oleh dokter asing. ”Ya, saya pikir kita enggak kalah. Hanya masyarakat kita yang kurang percaya. Buktinya, sakit saya justru sembuh di tangan dokter dalam negeri,” katanya bangga.